Celoteh - Sachdar

Share all of thoughts ....

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
November 1, 2009

Kita Bahagia Karena Berguna

Posted by sachdar

Satu hal yang menarik dalam hidup ini adalah, bahwa hidup tak pernah membuat kita kandas. Jika hidup memberi kita kesulitan, hidup juga memberi kita kemampuan untuk mengatasinya. Kemampuan kita berbeda-beda, tergantung bagaimana kita termotivasi untuk menggunakannya. Seseorang yang mempunyai kondisi fisik yang tidak sehat misalnya, tetap bisa menjalani kehidupan yang berguna dan bahagia

Kadang, kita mungkin takut, penyakit akan melumpuhkan kita, membuat kita tak berdaya. Ternyata kita bisa membuat rasa takut ini menjadi tidak beralasan. Contohnya seperti yang menimpa seorang petani miskin dari Wisconsin, Milo C. jones. Ketika kondisi fisknya sangat sehat, ia bekerja sangat keras, tapi keluarganya tetap saja miskin. Sampai akhirnya ia jatuh sakit, hampir seluruh badannya lumpuh. Lalu terpaksa berada di tempat tidur sepanjang waktu. Keluarganya berpikir, semangatnya pasti akan runtuh dan hidupnya tidak bahagia karena menjadi orang cacat yang tak berdaya.

Yang terjadi justru sebaliknya. Tiba-tiba saja Jones merasa tubuhnya memang lumpuh, tapi pikirannya masih baik. Jika dia tidak bisa menggunakan tubuhnya, dia bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir dan berencana. Saat itu juga dia memutuskan akan menggunakan pikirannya. Kendati lumpuh, dia ingin hidupnya berguna untuk keluarganya. Ia bukan hanya tak ingin menjadi beban bagi keluarganya, tapi malah ingin menghidupi keluarganya. Dia memutuskan tak akan membiarkan masalah kecacatan ini menghentikan langkahnya.

Jones lalu mulai menyusun rencana dan sesudah itu memanggil seluruh keluarganya. ”saya tak bisa lagi bekerja dengan tangan” katanya,”karena itu, saya memutuskan untuk bekerja dengan pikiran. Kalian semua bisa, jika mau, menjadi tangan, kaki dan tubuh saya. Tanam setiap are dari ladang kita dengan jagung itu. Potong babi itu ketika masih muda dan olah jadi sosis. Lalu kemas dan jual dengan diberi merek. Kita akan menjualnya diseluruh toko retail di seluruh negara. Dan jualan kita akan laku keras.”

Ternyata dagangannya memang laku keras. Moli C. Jones justru menjadi milyuner di saat fisiknya masih lumpuh. Kelumpuhan ini tidak membuatnya putus asa atau merana, tapi justru membuat dia optimistik, penuh harapan dan bahagia. Dia bahagia karena dia berguna.

Kita beruntung karena tidak semua hidup harus menghadapi kesulitan yang begitu besar. Tapi setiap orang punya masalah. Dan setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda. Kita bisa memilih dan menentukan reaksi kita. Kita bisa memotivasi diri kita sendiri. Sumber motivasi itu bisa macam-macam. Apakah kisah sukses yang sekarang kita baca, atau slogan dari orang-orang besar, atau yang sejenisnya.

Apapun yang bisa dipahami dan diyakini, akan bisa diraih

Jika seseorang itu benar, maka dunianya akan benar. Jika kita tidak bahagia dengan dunia kita dan ingin mengubahnya, tempat pertama yang harus mulai kita ubah adalah diri kita sendiri. Jika kita benar, maka dunia kita akan benar.

We're Happy As Useful

One of the interesting things in this life is, that life never make us aground. If life gives us difficulties, life also gives us the ability to cope. Our ability to vary, depending on how we are motivated to use it. Someone who has a physical condition that is not healthy for example, can still live a useful and happy

Sometimes, we may fear, the disease will paralyze us, making us helpless. It turned out that we can make this fear unfounded. Examples like that happened to a poor farmer from Wisconsin, Milo C. jones. When fisknya very healthy condition, he worked very hard, but the family remained poor. Until finally he fell ill, almost all of his body paralyzed. Then forced to be in bed all the time. Her family thought, his spirits would have collapsed and his life was not happy because the people with disabilities are helpless.

Exactly the opposite. Suddenly, Jones felt his body was paralyzed, but his mind was still good. If he can not use his body, he can use his mind to think and plan. At that time he also decided to use his mind. Although paralyzed, he wanted his life useful to his family. He not only did not want to be a burden to his family, but instead wants to support his family. He decided not to let this disability issue stopped.

Jones then began to make plans and then call the whole family. "I could no longer work with his hands" he said, "because that, I decided to work with the mind. You all can, if desired, into the hands, feet and my body. Are planted each of our fields with corn. Cut the pork was when I was young, and if so sausage. Then packing and selling a given brand. We will sell it at retail stores throughout the country. And we will conduct sales hard. "

Apparently it sells merchandise. Moli C. Jones became millionaires in the physical is still paralyzed. This paralysis is not him to despair or misery, but instead makes him optimistic, hopeful and happy. She was happy because he was useful.

We are lucky because not all have to face the difficulties of life so much. But every person has a problem. And each person reacts differently. We can pick and choose our reactions. We can motivate ourselves. Source of motivation could be all kinds. Does the current success stories we read, or slogan of great men, or the like.

Anything that can be understood and believed, would be achieved

If a person is true, then the world will be right. If we are not happy with our world and want to change it, the first place we must start to change is ourselves. If we are correct, then our world will be right.

October 29, 2009

Memahami/Mengendalikan Ego & Menghargai Perbedaan

Posted by sachdar

Seperti gurat-gurat sidik jari yang berbeda satu sama lain, demikian juga halnya dengan sifat-sifat, sikap dasar, karakter, bakat dan potensi yang ada pada setiap orang. Sikap dasar, karakter dan pola pikir yang menjadi acuan utama dalam bertindak (yang disebut Mind-set) ini memberi kita semacam perintah-perintah di luar kesadaran: “Beginilah semestinya kita bertindak!”.

Tanpa sadar, seringkali kita melihat dengan kaca mata negatif perbedaan di antara kita dengan orang lain lalu kita bergumam di dalam hati: “Kok dia begitu? Mestinya begini dong!”. Dengan kaca mata negatif juga ego kita jadi terpancing ketika kita melihat kelebihan pada diri orang lain. Bagian Kanak-kanak pada diri kita merengek meminta dukungan dan pembenaran terhadap anggapan baku kita: “Punyaku lebih baik, aku lebih hebat dari dia”.


Begitulah “pikiran monyet” atau ego, tanpa kita sadari telah bersikap gelisah serta bertindak salah tingkah, dalam upaya melindungi harga diri sebagai “sosok pribadi yang bermartabat”. Dan tanpa sadar kita terobsesi mengubah orang lain, agar mereka punya cara pandang yang sama dengan kita.


Sekarang kita bisa melihat bahwa sejauh ini kita telah dicemari oleh “jiwa yang tidak sehat” atau ego yang tak terkendali karena tidak pernah diperiksa. Sekarang kita bisa melihat bahwa selama ini kita telah diganduli oleh “pikiran monyet” yang selalu meminta perhatian dan menuntut pembenaran.


Bila kita bisa melihatnya dengan jelas, tentu kita bisa memisahkannya dari diri kita. Dengan memandang dari jarak tertentu serta mengamati perbedaan antara diri kita yang sesungguhnya dengan “pikiran monyet’ yang selama ini kita gendong, sekarang kita bisa mempunyai kesadaran baru bahwa mulai sekarang kita bisa menjadi insan yang berbeda, yang tidak lagi terbelenggu oleh ego.


Kita tidak harus menghancurkan ego kita sendiri karena ia memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Kalau ia kita hancurkan maka kitapun akan ikut hancur bersamanya, melalui rasa bersalah dan rasa benci kepada diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah berupaya menyadarinya serta menjinakkannya agar ia tidak lagi menjadi “monyet yang liar”. Kita dapat mengubahnya menjadi monyet yang baik dan jinak, sekaligus menjadi sahabat baik kita. Kepada monyet sahabat baik ini, kita bisa melakukan dialog dengan teknik suspending assumption, yang artinya “pikiran monyet” kita pisahkan, biarkan ia tergantung bebas di hadapan kita, lalu periksa dan amati secara berulang-ulang, mengapa ia seperti itu? Mungkin kita sampai pada kesimpulan bahwa ego tersebut tidak pernah atau tidak cukup mendapat nutrisi. Mungkin kita dibesarkan dalam suasana yang kering akan pengakuan, penerimaan atau pujian. Berbagai prestasi telah kita raih, berbagai potensi telah kita kembangkan namun semua kejadian itu seolah-olah menjadi sesuatu yang sudah seharusnya terjadi, tanpa pengakuan atau pengukuhan. Maka jadilah monyet-monyet kita sebagai mahluk yang selalu lapar dan haus karena sesungguhnya iapun berhak mendapat pengakuan dan pengukuhan terhadap apa yang sudah ia hasilkan.


Apakah kita akan menunggu orang-orang di sekeliling kita memberi nutrisi kepada monyet sahabat kita? Mengapa kita harus menunggu? Mengapa tidak bertindak secara pro-aktif bahwa kita sendirilah yang harus memberi nutrisi kepada mereka? Sekaranglah waktunya untuk bertindak, tanpa harus menunggu orang lain. Mari kita cari berbagai potensi yang kita miliki. Mari kita cari berbagai kelebihan yang kita miliki sebagai pribadi yang memang unik dan berbeda. Mari kita jinakkan monyet yang gelisah: “Sini nyet, duduk manislah di dekatku. Mari kita periksa, apa saja potensi yang kita miliki. Mari kita periksa berbagai prestasi yang telah kita raih. Ya ampun, alangkah banyaknya hal-hal yang harus kita syukuri. Iya nggak nyet? Nah mari kita bersulang untuk semua itu, untuk kesejahteraan batin kita!”


Kalau Tuhan saja telah menciptakan hal-hal yang berbeda sebagai polaritas yang selalu hadir dalam alam dan kehidupan seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gunung dan lembah, dan lain sebagainya, mengapa pula kita berpretensi untuk memaksa sesuatu agar semuanya seragam atau tidak berbeda? Termasuk memaksakan kehendak agar orang-orang di sekeling kita punya pola pikir yang sama dengan kita. Dapatkah kita berpikir bahwa sebuah orkestra hanya terdiri dari biola saja, tanpa alat instrumen yang lain? Bukankah keindahan sebuah simfoni orkestra disebabkan oleh keberagaman instrumen yang digunakan, dalam harmoni kapan jenis instrumen tertentu harus bertindak semetara yang lain diam menunggu? Sebagai mahluk sosial kita tidak mungkin hidup tanpa menjadi pemain salah satu instrumen dalam orkestra kehidupan, baik dalam kehidupan professional, kehidupan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat. Pertanyaan kita sekarang adalah, simfoni macam mana yang ingin kita mainkan?