Celoteh - Sachdar

Share all of thoughts ....

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
November 1, 2009

Kita Bahagia Karena Berguna

Posted by sachdar

Satu hal yang menarik dalam hidup ini adalah, bahwa hidup tak pernah membuat kita kandas. Jika hidup memberi kita kesulitan, hidup juga memberi kita kemampuan untuk mengatasinya. Kemampuan kita berbeda-beda, tergantung bagaimana kita termotivasi untuk menggunakannya. Seseorang yang mempunyai kondisi fisik yang tidak sehat misalnya, tetap bisa menjalani kehidupan yang berguna dan bahagia

Kadang, kita mungkin takut, penyakit akan melumpuhkan kita, membuat kita tak berdaya. Ternyata kita bisa membuat rasa takut ini menjadi tidak beralasan. Contohnya seperti yang menimpa seorang petani miskin dari Wisconsin, Milo C. jones. Ketika kondisi fisknya sangat sehat, ia bekerja sangat keras, tapi keluarganya tetap saja miskin. Sampai akhirnya ia jatuh sakit, hampir seluruh badannya lumpuh. Lalu terpaksa berada di tempat tidur sepanjang waktu. Keluarganya berpikir, semangatnya pasti akan runtuh dan hidupnya tidak bahagia karena menjadi orang cacat yang tak berdaya.

Yang terjadi justru sebaliknya. Tiba-tiba saja Jones merasa tubuhnya memang lumpuh, tapi pikirannya masih baik. Jika dia tidak bisa menggunakan tubuhnya, dia bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir dan berencana. Saat itu juga dia memutuskan akan menggunakan pikirannya. Kendati lumpuh, dia ingin hidupnya berguna untuk keluarganya. Ia bukan hanya tak ingin menjadi beban bagi keluarganya, tapi malah ingin menghidupi keluarganya. Dia memutuskan tak akan membiarkan masalah kecacatan ini menghentikan langkahnya.

Jones lalu mulai menyusun rencana dan sesudah itu memanggil seluruh keluarganya. ”saya tak bisa lagi bekerja dengan tangan” katanya,”karena itu, saya memutuskan untuk bekerja dengan pikiran. Kalian semua bisa, jika mau, menjadi tangan, kaki dan tubuh saya. Tanam setiap are dari ladang kita dengan jagung itu. Potong babi itu ketika masih muda dan olah jadi sosis. Lalu kemas dan jual dengan diberi merek. Kita akan menjualnya diseluruh toko retail di seluruh negara. Dan jualan kita akan laku keras.”

Ternyata dagangannya memang laku keras. Moli C. Jones justru menjadi milyuner di saat fisiknya masih lumpuh. Kelumpuhan ini tidak membuatnya putus asa atau merana, tapi justru membuat dia optimistik, penuh harapan dan bahagia. Dia bahagia karena dia berguna.

Kita beruntung karena tidak semua hidup harus menghadapi kesulitan yang begitu besar. Tapi setiap orang punya masalah. Dan setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda. Kita bisa memilih dan menentukan reaksi kita. Kita bisa memotivasi diri kita sendiri. Sumber motivasi itu bisa macam-macam. Apakah kisah sukses yang sekarang kita baca, atau slogan dari orang-orang besar, atau yang sejenisnya.

Apapun yang bisa dipahami dan diyakini, akan bisa diraih

Jika seseorang itu benar, maka dunianya akan benar. Jika kita tidak bahagia dengan dunia kita dan ingin mengubahnya, tempat pertama yang harus mulai kita ubah adalah diri kita sendiri. Jika kita benar, maka dunia kita akan benar.

We're Happy As Useful

One of the interesting things in this life is, that life never make us aground. If life gives us difficulties, life also gives us the ability to cope. Our ability to vary, depending on how we are motivated to use it. Someone who has a physical condition that is not healthy for example, can still live a useful and happy

Sometimes, we may fear, the disease will paralyze us, making us helpless. It turned out that we can make this fear unfounded. Examples like that happened to a poor farmer from Wisconsin, Milo C. jones. When fisknya very healthy condition, he worked very hard, but the family remained poor. Until finally he fell ill, almost all of his body paralyzed. Then forced to be in bed all the time. Her family thought, his spirits would have collapsed and his life was not happy because the people with disabilities are helpless.

Exactly the opposite. Suddenly, Jones felt his body was paralyzed, but his mind was still good. If he can not use his body, he can use his mind to think and plan. At that time he also decided to use his mind. Although paralyzed, he wanted his life useful to his family. He not only did not want to be a burden to his family, but instead wants to support his family. He decided not to let this disability issue stopped.

Jones then began to make plans and then call the whole family. "I could no longer work with his hands" he said, "because that, I decided to work with the mind. You all can, if desired, into the hands, feet and my body. Are planted each of our fields with corn. Cut the pork was when I was young, and if so sausage. Then packing and selling a given brand. We will sell it at retail stores throughout the country. And we will conduct sales hard. "

Apparently it sells merchandise. Moli C. Jones became millionaires in the physical is still paralyzed. This paralysis is not him to despair or misery, but instead makes him optimistic, hopeful and happy. She was happy because he was useful.

We are lucky because not all have to face the difficulties of life so much. But every person has a problem. And each person reacts differently. We can pick and choose our reactions. We can motivate ourselves. Source of motivation could be all kinds. Does the current success stories we read, or slogan of great men, or the like.

Anything that can be understood and believed, would be achieved

If a person is true, then the world will be right. If we are not happy with our world and want to change it, the first place we must start to change is ourselves. If we are correct, then our world will be right.

October 29, 2009

Memahami/Mengendalikan Ego & Menghargai Perbedaan

Posted by sachdar

Seperti gurat-gurat sidik jari yang berbeda satu sama lain, demikian juga halnya dengan sifat-sifat, sikap dasar, karakter, bakat dan potensi yang ada pada setiap orang. Sikap dasar, karakter dan pola pikir yang menjadi acuan utama dalam bertindak (yang disebut Mind-set) ini memberi kita semacam perintah-perintah di luar kesadaran: “Beginilah semestinya kita bertindak!”.

Tanpa sadar, seringkali kita melihat dengan kaca mata negatif perbedaan di antara kita dengan orang lain lalu kita bergumam di dalam hati: “Kok dia begitu? Mestinya begini dong!”. Dengan kaca mata negatif juga ego kita jadi terpancing ketika kita melihat kelebihan pada diri orang lain. Bagian Kanak-kanak pada diri kita merengek meminta dukungan dan pembenaran terhadap anggapan baku kita: “Punyaku lebih baik, aku lebih hebat dari dia”.


Begitulah “pikiran monyet” atau ego, tanpa kita sadari telah bersikap gelisah serta bertindak salah tingkah, dalam upaya melindungi harga diri sebagai “sosok pribadi yang bermartabat”. Dan tanpa sadar kita terobsesi mengubah orang lain, agar mereka punya cara pandang yang sama dengan kita.


Sekarang kita bisa melihat bahwa sejauh ini kita telah dicemari oleh “jiwa yang tidak sehat” atau ego yang tak terkendali karena tidak pernah diperiksa. Sekarang kita bisa melihat bahwa selama ini kita telah diganduli oleh “pikiran monyet” yang selalu meminta perhatian dan menuntut pembenaran.


Bila kita bisa melihatnya dengan jelas, tentu kita bisa memisahkannya dari diri kita. Dengan memandang dari jarak tertentu serta mengamati perbedaan antara diri kita yang sesungguhnya dengan “pikiran monyet’ yang selama ini kita gendong, sekarang kita bisa mempunyai kesadaran baru bahwa mulai sekarang kita bisa menjadi insan yang berbeda, yang tidak lagi terbelenggu oleh ego.


Kita tidak harus menghancurkan ego kita sendiri karena ia memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Kalau ia kita hancurkan maka kitapun akan ikut hancur bersamanya, melalui rasa bersalah dan rasa benci kepada diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah berupaya menyadarinya serta menjinakkannya agar ia tidak lagi menjadi “monyet yang liar”. Kita dapat mengubahnya menjadi monyet yang baik dan jinak, sekaligus menjadi sahabat baik kita. Kepada monyet sahabat baik ini, kita bisa melakukan dialog dengan teknik suspending assumption, yang artinya “pikiran monyet” kita pisahkan, biarkan ia tergantung bebas di hadapan kita, lalu periksa dan amati secara berulang-ulang, mengapa ia seperti itu? Mungkin kita sampai pada kesimpulan bahwa ego tersebut tidak pernah atau tidak cukup mendapat nutrisi. Mungkin kita dibesarkan dalam suasana yang kering akan pengakuan, penerimaan atau pujian. Berbagai prestasi telah kita raih, berbagai potensi telah kita kembangkan namun semua kejadian itu seolah-olah menjadi sesuatu yang sudah seharusnya terjadi, tanpa pengakuan atau pengukuhan. Maka jadilah monyet-monyet kita sebagai mahluk yang selalu lapar dan haus karena sesungguhnya iapun berhak mendapat pengakuan dan pengukuhan terhadap apa yang sudah ia hasilkan.


Apakah kita akan menunggu orang-orang di sekeliling kita memberi nutrisi kepada monyet sahabat kita? Mengapa kita harus menunggu? Mengapa tidak bertindak secara pro-aktif bahwa kita sendirilah yang harus memberi nutrisi kepada mereka? Sekaranglah waktunya untuk bertindak, tanpa harus menunggu orang lain. Mari kita cari berbagai potensi yang kita miliki. Mari kita cari berbagai kelebihan yang kita miliki sebagai pribadi yang memang unik dan berbeda. Mari kita jinakkan monyet yang gelisah: “Sini nyet, duduk manislah di dekatku. Mari kita periksa, apa saja potensi yang kita miliki. Mari kita periksa berbagai prestasi yang telah kita raih. Ya ampun, alangkah banyaknya hal-hal yang harus kita syukuri. Iya nggak nyet? Nah mari kita bersulang untuk semua itu, untuk kesejahteraan batin kita!”


Kalau Tuhan saja telah menciptakan hal-hal yang berbeda sebagai polaritas yang selalu hadir dalam alam dan kehidupan seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gunung dan lembah, dan lain sebagainya, mengapa pula kita berpretensi untuk memaksa sesuatu agar semuanya seragam atau tidak berbeda? Termasuk memaksakan kehendak agar orang-orang di sekeling kita punya pola pikir yang sama dengan kita. Dapatkah kita berpikir bahwa sebuah orkestra hanya terdiri dari biola saja, tanpa alat instrumen yang lain? Bukankah keindahan sebuah simfoni orkestra disebabkan oleh keberagaman instrumen yang digunakan, dalam harmoni kapan jenis instrumen tertentu harus bertindak semetara yang lain diam menunggu? Sebagai mahluk sosial kita tidak mungkin hidup tanpa menjadi pemain salah satu instrumen dalam orkestra kehidupan, baik dalam kehidupan professional, kehidupan keluarga maupun kehidupan bermasyarakat. Pertanyaan kita sekarang adalah, simfoni macam mana yang ingin kita mainkan?

October 27, 2009

Perawan Senja

Posted by sachdar

When nature welcoming dusk, seen an air of being lifted her face, meaning that in implicit once when she means the sky charm. Bless her admiration culminated lines of life, the moment her thoughts Interpreted how small she was than the Lord. At that time he was tired, he was resting fruit she thought, as she did himself, but naturally does not mean lonely.

Loneliness is over does not make him nervous, it just reinforced inner, in fact she was not entirely his own, because she spent his time to activities, the activities who accompanied him. she was always doing something that could make him free, free from the sense of loneliness, free from the confines of the frame itself. She always tried to do something that might mean for her and those around her.

She is a selfish, very selfish, but selfish in defending his principles, the principle to keep himself from all ruthlessness and contempt of the world, she himself by faith umbrella, she protects himself from the love of pulp, which is only defeating him.

Anything of value found on her was still intact and well maintained, neatly wrapped, like a rose that is protected by thorns. She maintained that all of the closing of all senses. She closed his eyes from the visual that invites passion, she covered her ears from the depravity of human passions, She closed her heart of everything that invite lust. That is a value that is in her, She was the pearl in the sea floor into jewelry yearning seekers of the world,

It is not feasible if she compared with the market women, who sell themselves to the property or plentiful of throne, was himself not comparable with the crown sell out (pengobral) of soul. She is the figure of a love that only love of his life to a true partner.

How much woman is like, how much woman that seemed to charm, but they are invisible, they are only visible if we use the spectacles of faith, and not all "adam" can use the goggles.

Did she become a minority in the natural world? If so, how difficult it is to find a real human being like herself. But, do not worry, Hi... the "adam"! We must believe, if we try to be the best, God will give us the best too.

Perawan Senja

Ketika alam menyambut senja, terlihat seorang hawa sedang menengadahkan wajahnya, terbesit makna yang dalam sekali kala ia mengartikan pesona langit. Dirinya memuncak kagum mensyukuri garis-garis kehidupan, lamunannya yang sesaat mensyiratkan betapa kecil dirinya dihadapan Tuhan-nya. Saat itu ia memang sedang lelah, ia sedang mengistirahatkan buah pikirnya, saat itu ia memang sendiri, tapi sendirinya bukan berarti sepi.

Kesendirian yang menghampirinya tidak membuatnya gelisah, justru hal itu semakin menguatkan batinnya, sebenarnya ia tidak sepenuhnya sendiri, karena ia habiskan waktunya untuk beraktivitas, aktivitaslah yang menemaninya. ia selalu berbuat sesuatu yang bisa membuat hatinya bebas, bebas dari rasa kesepian, bebas dari kungkungan yang membingkai dirinya. Ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bisa berarti untuknya dan orang sekitarnya.

Ia adalah seorang yang egois, bahkan sangat egois, tapi egois dalam mempertahankan prinsipnya, prinsip untuk menjaga dirinya dari segala keangkaramungkaran dan kenistaan dunia, ia memayungi dirinya dengan iman, ia melindungi dirinya dari cinta picisan, yang hanya mempecundangi dirinya.

Sesuatu yang berharga yang terdapat pada dirinya masih utuh dan terjaga dengan baik, terbungkus dengan rapi, bak mawar yang terlindungi oleh durinya. Ia mempertahankan itu semua dengan menutup semua inderanya. Ia menutup matanya dari visual yang mengundang syahwat, ia menutup telinganya dari kebejatan nafsu manusia, ia menutup hatinya dari segala sesuatu yang mengundang birahi. Itu merupakan nilai lebih yang ada pada dirinya, dialah mutiara di dasar laut yang menjadi dambaan para pencari perhiasan dunia,

Sungguh tidak layak jika dirinya dibandingkan dengan wanita pasaran, yang mengobral diri mereka dengan gelimang harta atau tahta, sungguh dirinya tidak sebanding dengan para pengobral mahkota jiwa. Ia adalah sosok seorang kasih yang hanya memberikan cinta sejatinya kepada pasangan sejati.

Berapa banyak hawa yang sepertinya, berapa banyak hawa yang memiliki pesona sepertinya, mereka ada tapi tak nampak, mereka hanya terlihat jika kita menggunakan kacamata iman, dan tidak semua adam bisa memanfaatkan kacamata itu.

Benarkah dirinya menjadi minoritas di alam dunia ini? Bila seperti itu, alangkah sulitnya mencari insan sejati seperti dirinya. Tapi, tidak usah khawatir, wahai kaum adam! Kita harus yakin, jika kita berusaha menjadi yang terbaik, Tuhan akan memberikan kita yang terbaik juga.


October 25, 2009

Grow up the Health of Soul

Posted by sachdar


Each of us had a chance to live only once. One time at some point, we will leave this mortal world. When he passed away, our bodies lay for a moment at the funeral home. People will come mourn, or otherwise not come to mourn, but they never knew we would comment about the contributions that we have given as long as we are still alive.

Donations can be positive, could also be negative, it all depends from, and once it's up to us each. Now let us examine and reflect for a moment, what about those comments when our bodies lay in the funeral home prior to burial. Let us also consider what kind of life we want to live, which might be remembered by future generations in the future.
Rather than focusing on a new awareness of living in a different way, which is more in accordance with our conscience urge the deepest, maybe some of us are now bound by guilt, why do not we always think about our existence and think about the choices we take in this life. Guilt can sometimes make some of us feel cramped, but felt cramped or otherwise into the field is really a choice in our own hands. As with the two prisoners who are both languishing in the jail.

At night, from behind bars is a joy to enjoy the stars in the clear sky, while others grieve at muddy gutter. Do we feel roomy and happy or suffer shortness, all that exists in the mind. They are wise tell us that it is human nature that it can do no wrong. Yeah I guess, we are not only being creation. So, as long as we are not God - and forever we are just creations - then we'll never escape the possibility of making mistakes. Then why should feel crowded? Let us not forget while you take a lesson from the mistakes that we've done to get better from time to time.

Yes, indeed within us there are souls who are always healthy should be maintained to stay healthy. Perhaps we have forgotten or perhaps he had been distorted by a variety of persuasive voices centered on purely material. Things around the material itself is not something taboo because it can broaden our reach in to contribute. The more affluent people actually have a greater opportunity to contribute.

Which can be a problem is if that material wealth is used to protect themselves from feeling insecure because we do not believe that people can still receive our existence even though we are not rich people. Also can be a problem if we unconsciously use the wealth of material to quiet the restless monkey mind and always wanted to voice the songs: "Mine is better, and I see this more affluent '.

Healthy soul will grow in balance, between the material life, social, emotional and spiritual. We are able to become rich materially from what we make but we only can be rich in spirit than what we give to the people around us. The wise men give us a clue that to produce something, start by giving. Perhaps the term take and give it's time to be replaced with the give and get that, its connotation is to start by giving.

Maybe between us were skeptical: "For myself sayapun still less, why did I have to give it to someone else?". You are not wrong but we should change the ways of thinking and trying to find, whether we can give and if we always give it to others such property will only increase a lot? The answer, include: appreciation and respect, a sincere smile, the knowledge we have, and so forth. So he began learning to develop more smiles, more genuine smile. We can start with a mutual smile to the organs in the body like heart, lungs, liver, kidney and others. We can also begin to smile reciprocally with the trees along the road we've been through. We also can smile reciprocally to the butterfly fun joking with fragrant flowers. And finally We also have a smile of infinite amount we can give to whomever we encounter.

Menumbuhkan Jiwa yang Sehat

Masing-masing dari kita punya kesempatan hidup hanya sekali. Suatu saat entah kapan, kita akan meninggalkan dunia yang fana ini. Ketika berpulang, jasad kita dibaringkan sejenak di rumah duka. Orang-orang akan datang melayat, atau sebaliknya tidak datang melayat namun mereka yang pernah mengenal kita akan berkomentar tentang sumbangan yang telah kita berikan selama kita masih hidup. Sumbangan tersebut bisa positif, bisa juga negatif, semuanya tergantung dari, dan sekaligus terserah kepada diri kita masing-masing. Sekarang mari kita periksa dan renungkan sejenak, apa kira-kira komentar orang-orang ketika jasad kita berbaring di rumah duka sebelum dikebumikan. Mari kita renungkan juga kehidupan macam mana yang ingin kita jalani, yang bisa jadi akan dikenang oleh generasi penerus di masa yang akan datang.
Alih-alih berfokus pada kesadaran baru untuk menjalani hidup dengan cara berbeda, yang lebih sesuai dengan dorongan nurani kita yang paling dalam, mungkin sebagian dari kita kini terbelenggu oleh rasa bersalah, kenapa tidak dari dulu kita berpikir tentang keberadaan kita serta berpikir tentang pilihan-pilihan yang kita ambil dalam menjalani hidup ini.

Rasa bersalah terkadang membuat sebagian dari kita merasa sesak, namun merasa sesak atau sebaliknya menjadi lapang sesungguhnya merupakan pilihan yang ada di tangan kita sendiri. Seperti halnya dengan dua orang tahanan yang sama-sama mendekam di dalam penjara. Di malam hari, dari balik jeruji besi yang seorang bersuka cita menikmati bintang-bintang di langit yang cerah, sementara yang lainnya bersedih menatap comberan berlumpur. Apakah kita merasa lapang dan bahagia atau sesak menderita, semua itu ada di dalam pikiran. Mereka yang arif memberi tahu kita bahwa sudah menjadi kodratnya bahwa manusia itu dapat berbuat salah. Iya juga ya, kita ini kan hanya mahluk ciptaanNya. Jadi, sepanjang kita bukan Tuhan – dan selamanya kita memang hanya ciptaanNya – maka kita tidak akan pernah luput dari kemungkinan berbuat salah. Lalu kenapa harus merasa sesak? Mari kita lupakan sembari mengambil pelajaran dari berbagai kesalahan yang pernah kita perbuat untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Ya, sesungguhnya di dalam diri kita terdapat jiwa-jiwa yang sehat yang selalu harus dipelihara agar tetap sehat. Mungkin kita telah melupakannya atau mungkin juga ia telah terdistorsi oleh berbagai bujuk rayu suara-suara yang berpusat pada kebendaan semata-mata. Hal-hal di seputar kebendaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang tabu karena ia dapat memperluas jangkauan kita dalam berkontribusi. Orang yang lebih kaya sesungguhnya punya peluang yang lebih besar untuk berkontribusi.

Yang dapat menjadi masalah adalah jika kekayaan material tersebut digunakan untuk melindungi diri dari rasa tidak aman karena kita tidak yakin bahwa orang-orang masih dapat menerima keberadaan kita walaupun kita bukan orang yang kaya. Juga dapat menjadi masalah bila tanpa sadar kita menggunakan kekayaan material untuk menenangkan pikiran monyet yang gelisah dan selalu ingin menyuarakan lagu-lagu: “Punyaku lebih baik, dan lihat aku ini lebih kaya”.
Jiwa yang sehat akan tumbuh dalam keseimbangan, antara kehidupan material, sosial, emosional dan spiritual. Kita memang dapat menjadi kaya secara material dari apa yang kita hasilkan namun kita hanya dapat menjadi kaya secara batin dari apa yang telah kita berikan kepada orang-orang di sekeliling kita. Orang-orang bijak memberi kita petunjuk bahwa untuk menghasilkan sesuatu, mulailah dengan memberi. Barangkali istilah take and give sudah saatnya untuk diganti dengan give and get karena, konotasinya ada pada memulai dengan memberi.

Mungkin di antara kita bersikap skeptis: “Untuk diri sayapun masih kurang, mengapa pula saya harus memberikannya kepada orang lain?”. Anda tidak salah namun ada baiknya kalau kita mengubah cara berpikir dan mencoba mencari, apakah yang dapat kita berikan dan kalau kita selalu memberikannya kepada orang lain harta tersebut justru akan bertambah banyak? Jawabannya antara lain adalah: penghargaan dan rasa hormat, senyum yang tulus, pengetahuan yang kita miliki, dan lain sebagainya. Maka mulailah belajar mengembangkan lebih banyak senyum, senyum yang lebih tulus. Kita bisa mulai dengan tersenyum secara timbal balik kepada organ-organ di dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal dan lain sebagainya. Kita juga dapat mulai tersenyum secara timbal balik dengan pepohonan di sepanjang jalan yang kita lalui. Kita juga dapat tersenyum secara timbal balik kepada kupu-kupu yang bercanda-ria dengan bunga yang mekar mewangi. Dan akhirnya kitapun punya senyum dalam jumlah tanpa batas yang dapat kita berikan kepada siapa saja yang kita jumpai.







October 22, 2009

Treat others, as we want to be treated

Posted by sachdar

If we work or provide services for more than the reward that we receive are willing and happy with everything, we will develop a good positive attitude, which is the basis or foundation of an interesting personality.

If we have an attractive personality, we can make almost all people behave like we want. Treat others, as we want to be treated. Apply the golden rule in everyday life. If people do not directly respond, keep doing and doing. If still not successful, we may think, if we still want to be with people like that.

Perlakukan orang lain, seperti kita ingin diperlakukan


Jika kita bekerja atau memberikan servis lebih dari imbalan yang kita terima secara rela dan dengan segala senang hati, kita akan mengembangkan sikap positif yang menyenangkan, yang merupakan dasar atau landasan dari kepribadian yang menarik.


Jika kita mempunyai kepribadian yang menarik, kita bisa membuat hampir semua orang berperilaku seperti yang kita inginkan. Perlakukan orang lain, seperti kita ingin diperlakukan. Terapkan kaidah kencana ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika orang tidak langsung merespon, terus lakukan dan lakukan. Jika tetap tidak berhasil, kemungkinan kita memikirkan, apakah kita masih ingin bersama dengan orang-orang seperti itu.